Singaraja – Mengalami krisis identitas setelah lulus SMA/sederajat merupakan hal yang seringkali dialami kebanyakan anak muda, tak terkecuali Kadek Desy Pramita yang akrab dipanggil Desy ini.
Siswi lulusan SMAN 2 Singaraja pada tahun 2018 ini juga pernah merasa kebingungan dalam memilih jurusan di perguruan tinggi. Sehingga pada akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti permintaan orang tuanya untuk melamar di program studi (Prodi) Kimia di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja lewat jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).
Saat sudah lulus SNMPTN Prodi Kimia, putri kedua dari pasangan Komang Eko Baruna dan Ketut Swarniasih ini malah merasa semakin bimbang, apakah Prodi ini adalah Prodi yang sesuai untuknya atau tidak.
Ditengah kebimbangannya, Desy memilih untuk memanfaatkan waktunya dengan menonton drama Korea (drakor). Diantara beragam genre Drakor yang telah ditonton, ia sangat tertarik dengan salah satu drakor yang berjudul “While You Were Sleeping”. Drakor ini mengusung plot cerita hukum, dengan menceritakan tentang wartawan, jaksa, dan polisi. Namun Desy sangat tertarik dengan jaksa di drama ini. Menurutnya, menjadi jaksa sangat keren karena dapat menegakkan kebenaran, dan berani menghadapi kasus-kasus kriminal.
“Setelah menonton drakor itu, saya langsung terinspirasi menjadi jaksa atau penegak hukum perempuan yang hebat. Jadi saya meninggalkan prodi Kimia, dan memutuskan mendaftar SBMPTN di Prodi Ilmu Hukum,” ungkapnya.
Sesuai dengan harapan Desy, ia akhirnya lulus Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), dan diterima sebagai mahasiswa baru di Prodi Ilmu Hukum, yang merupakan bagian dari Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial (FHIS) Undiksha. Dia mengaku, dari awal perkuliahan sampai lulus menjadi Sarjana Hukum, dia sangat menikmati proses perkuliahan.
Selain karena memang sesuai dengan panggilan hati, adanya fasilitas lengkap serta dosen-dosen yang ramah menjadi alasan utama mengapa Desy sangat menikmati kehidupannya di kampus. Ikut berorganisasi dan menjadi asisten dosen di kampus, menjadi salah satu hal yang menurutnya sangat seru dan bermanfaat.
Pada tugas akhirnya, gadis asal Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng ini mengangkat topik tentang “Penanggulangan Tindak Pidana Narkotika pada Anak di Kabupaten Buleleng”. Proses skripsinya ini menjadi ajang melatih keberanian mengungkap kasus narkotika yang menjangkit anak-anak lewat penelitian yang ia lakukan.
“Saya temukan belum ada keberanian dari orangtua yang melaporkan anaknya terlibat narkotika. Padahal tujuannya agar mendapatkan rehabilitasi. Seandainya banyak yang berani lapor, jumlahnya pasti tidak hanya satu orang seperti hasil penelitian saya,” terangnya.
Terpisah, salah satu dosen Ilmu Hukum Undiksha, Ni Putu Rai Yuliartini, SH., MH., mengaku memberikan kesempatan yang sama bagi mahasiswanya sebagai asisten asal punya tekad dan komitmen. Salah satunya adalah Desy.
Desy, menurut Rai Yuliartini yang pernah menjabat menjadi Koordinator Prodi Ilmu Hukum Undiksha, mempunyai modal yang kuat untuk menggapai cita-citanya menjadi jaksa perempuan hebat. “Selain kemampuan akademik yang baik, orangnya juga komunikatif, suka tantangan dan siap ketika diberi tugas,” kata Rai.
Wakil Dekan I FHIS Undiksha, Dr. Dewa Gede Sudika Mangku, SH., LLM., mengaku senang karena anak-anak didiknya berani menggantungkan cita-cita tinggi dan linier dengan kompetensi keilmuannya.
Ia sangat berharap, para alumnusnya bekerja sesuai dengan relnya agar memberikan kontribusi yang nyata bagi dunia hukum di Tanah Air. “Kesesuaian (jurusan dengan pekerjaan) juga menjadi indikator kesuksesan kami. Selain pekerjannya linier, kami juga harap mereka sejahtera,” harap Dewa Mangku. (Kdp)









